Minggu, 10 Maret 2013
sedekah ustad yusuf mansur
Mari miliki sampingan BISNIS MUSLIM Online & Offline tapi juga sekaligus belajar AGAMA
..Disinilah Tempatnya
bersama JoinSyariahDotCom
Mari miliki sampingan BISNIS MUSLIM Online & Offline tapi juga sekaligus belajar AGAMA
..Disinilah Tempatnya
bersama JoinSyariahDotCom
Alhamdulillah.......
telah lahir bisnis muslim e-miracle amal USAHA kita semua bersama, jadikan usaha/bisnis ini sebagai motivasi untuk mewujudkan :
MLT, Multi Level Tahajud,
MLD, Multi Level Dhuha, MLS, Multi Level Sedekah, MLFidz, Multi Level Tahfidz...
Pokoknya MLA... Multi Level Amal.
"TARGET Ust. Yusuf Mansur adalah akan MEMBANGUN MASJID SENILAI Rp. 10 MILYAR
DARI HASIL e-Mraclee-miracle ASLI" mari bersama kita DUKUNG dan amalkan sedikit rezeki kita
untuk mewujudkan MESJID TERSEBUT, SEGERA BERGABUNG Jadilah Umat Muslim yang SUKSES dan BERKAH.
Read more: http://joinsyariah.com/index.php?id=ruliristoni#ixzz2NCvd5wvO
Minggu, 20 November 2011
Orang yang sakit pastilah mencari obat untuk sembuh. Namun, apabila ia tak menghindari penyebabnya pastilah ia tidak akan pernah lepas dengan penyakitnya. Sama dengan orang yang hatinya sakit dan diperbudak olehnafsu syahwatnya, pasti akan diperbolak – balik hatinya oleh syaitan, kecuali ia menghindari penyebab kerusakan hati tersebut.
Sabtu, 19 November 2011
Apabila tanah bumi di gali, dihilangkan semua tanah yang melapisinya. Maka akan muncul sumber air yang jernih. Begitu pula hati, apabila kotoran – kotoran hati di hilangkan, pasti terpancarlah sumber ilmu di dalamnya, terbukalah alam malakut dan hati itu akan menjadi medan tauhid.
Manusia itu ibarat sebuah lilin.
Manusia itu ibarat sebuah lilin.
Manusia itu ibarat seorang musafir. Harta yang cukup, sebagai bekal perjalanannya. Namun, tak cukup itu saja, seorang musafir itu membutuhkan sebuah peta yang dapat member arah keman ia akan berjalan dan dimana tempat tujuannnya, dalam hal ini adalah agama. Tak cukup itu saja, mempunyai bekal dan peta petunjuk, namun tak dapat membaca peta. Pasti semua itu tetap tak ada gunanya. Maka seorang musafir itu membutuhkan ilmu dalam hal itu, ilmu yang dapat membantunya membaca peta. Ada bekal, ada peta dan cukup ilmu, itu masih belum cukup. Karena seorang musafir mempunyai tempet tujuan, maka kemanakah tujuan kita? Surga? Neraka?dunia? atau Allloh?
Jangan pernah berhenti pada satu maqam, jangan berhenti pada satu keadaan. Karena,semua itu telah ditetapkan, dan ketetapan Alloh tidak berhenti pada satu titik, yang menurut kita itu adalah titik perhentian.
Hidup itu memang pilihan, tapi perjalanan hidup itu telah ditetapkan. Niatkan ikhtiarmu kepada jalan akhirat, bukan sebagai membangun dunia.
Dunia adalah ladang akhirat….
Hidup itu memang pilihan, tapi perjalanan hidup itu telah ditetapkan. Niatkan ikhtiarmu kepada jalan akhirat, bukan sebagai membangun dunia.
Dunia adalah ladang akhirat….
Kusnudzon terhadap apa yang terjadi, berpikir di balik semua kejadian itu pasti ada hikmahnya, dan menetapkan dalam hati bahwa semua itu tlah di atur oleh Alloh. Dan Alloh pasti memberi yang terbaik bagi kita. InsyaAlloh semua itu adalah jalan syukur dan ikhlas. Dan syukur dan ikhlas adalah jalan kebahagiaan.
Jumat, 26 November 2010
muhasabah
"Sungguh aneh orang zaman sekarang benci kedudukan tapi mencarinya. ibarat orang yang takut ular tapi ia mendekatinya, lalu ia pasrah kepada Alloh swt kalau digigit ia tabah tapi kalau tidak digigit ia mensyukurinya".
"Hidup adalah mati, mati adalah hidup. sebenarnya orang yang benar - benar hidup ialah orang yang merasa tlah mati di dunia. orang hidup memandang dunia ini adalah suatu jalan untuk menuju tempat kehidupan sebenarnya, apabila mereka tlah mati maka ia benar - benar tlah sampai kehidupannya"
"Hidup adalah mati, mati adalah hidup. sebenarnya orang yang benar - benar hidup ialah orang yang merasa tlah mati di dunia. orang hidup memandang dunia ini adalah suatu jalan untuk menuju tempat kehidupan sebenarnya, apabila mereka tlah mati maka ia benar - benar tlah sampai kehidupannya"
Minggu, 07 November 2010
DUNIA
$$$ ||Banyak jalan oleh syaitan untuk mengelincirkan manusia.
|Dunia ini dijadikan indah dengan permata dan wanita.
|Banyak orang dijadikan bangga dengan anak dan nama.
|Banyak orang disibukkan dengan harta benda.
|Sedikit sekali yang memandang dia hina.
$$$ |Tak sedikit orang terperangkap tipu dayanya.
|Dunia ini dijadikan indah dengan permata dan wanita.
|Banyak orang dijadikan bangga dengan anak dan nama.
|Banyak orang disibukkan dengan harta benda.
|Sedikit sekali yang memandang dia hina.
$$$ |Tak sedikit orang terperangkap tipu dayanya.
Kamis, 17 September 2009
Nabi Musa as mencari ilmu
Nabi Musa as mencari ilmu
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا {60}
60. Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya) : "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelim sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.(QS.18:60)
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا {61}
61. Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.(QS.18:61)
فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءنَا لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا {62}
62. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".(QS.18:62)
قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا {63}
63. Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali".(QS.18:63)
قَالَ ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا {64}
64. Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.(QS.18:64)
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا {65}
65. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami .(QS.18:65)
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا {66}
66. Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu"(QS.18:66)
قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا {67}
67. Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.(QS.18:67)
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا {68}
68. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu"(QS.18:68)
قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا {69}
69. Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".(QS.18:69)
قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَن شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا {70}
70. Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tetang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".(QS.18:70)
فَانطَلَقَا حَتَّى إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا {71}
71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidihr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.(QS.18:71)
قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا {72}
72. Dia (Khidihr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku"(QS.18:72)
قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا {73}
73. Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".(QS.18:73)
فَانطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُّكْرًا {74}
74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidihr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar".(QS.18:74)
{Juz.16}
قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِي صَبْرًا {75}
75. Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku"(QS.18:75)
قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّي عُذْرًا {76}
76. Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku".(QS.18:76)
فَانطَلَقَا حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا {77}
77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".(QS.18:77)
قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا {78}
78. Khidihr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.(QS.18:78)
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا {79}
79. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.(QS.18:79)
وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا {80}
80. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.(QS.18:80)
فَأَرَدْنَا أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا {81}
81. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).(QS.18:81)
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا {82}
82. Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya".(QS.18:82)
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّى أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا {60}
60. Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada (muridnya) : "Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelim sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.(QS.18:60)
فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوتَهُمَا فَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ سَرَبًا {61}
61. Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.(QS.18:61)
فَلَمَّا جَاوَزَا قَالَ لِفَتَاهُ آتِنَا غَدَاءنَا لَقَدْ لَقِينَا مِن سَفَرِنَا هَذَا نَصَبًا {62}
62. Maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya: "Bawalah ke mari makanan kita; sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".(QS.18:62)
قَالَ أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنسَانِيهُ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ وَاتَّخَذَ سَبِيلَهُ فِي الْبَحْرِ عَجَبًا {63}
63. Muridnya menjawab: "Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali".(QS.18:63)
قَالَ ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا {64}
64. Musa berkata: "Itulah (tempat) yang kita cari". Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula.(QS.18:64)
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا {65}
65. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami .(QS.18:65)
قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَن تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا {66}
66. Musa berkata kepada Khidhr: "Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu"(QS.18:66)
قَالَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا {67}
67. Dia menjawab: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku.(QS.18:67)
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا {68}
68. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu"(QS.18:68)
قَالَ سَتَجِدُنِي إِن شَاء اللَّهُ صَابِرًا وَلَا أَعْصِي لَكَ أَمْرًا {69}
69. Musa berkata: "Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun".(QS.18:69)
قَالَ فَإِنِ اتَّبَعْتَنِي فَلَا تَسْأَلْنِي عَن شَيْءٍ حَتَّى أُحْدِثَ لَكَ مِنْهُ ذِكْرًا {70}
70. Dia berkata: "Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tetang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu".(QS.18:70)
فَانطَلَقَا حَتَّى إِذَا رَكِبَا فِي السَّفِينَةِ خَرَقَهَا قَالَ أَخَرَقْتَهَا لِتُغْرِقَ أَهْلَهَا لَقَدْ جِئْتَ شَيْئًا إِمْرًا {71}
71. Maka berjalanlah keduanya, hingga tatkala keduanya menaiki perahu lalu Khidihr melobanginya. Musa berkata: "Mengapa kamu melobangi perahu itu yang akibatnya kamu menenggelamkan penumpangnya?" Sesungguhnya kamu telah berbuat kesalahan yang besar.(QS.18:71)
قَالَ أَلَمْ أَقُلْ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا {72}
72. Dia (Khidihr) berkata: "Bukankah aku telah berkata: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersama dengan aku"(QS.18:72)
قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا نَسِيتُ وَلَا تُرْهِقْنِي مِنْ أَمْرِي عُسْرًا {73}
73. Musa berkata: "Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku".(QS.18:73)
فَانطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُّكْرًا {74}
74. Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidihr membunuhnya. Musa berkata: "Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar".(QS.18:74)
{Juz.16}
قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِي صَبْرًا {75}
75. Khidhr berkata: "Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku"(QS.18:75)
قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّي عُذْرًا {76}
76. Musa berkata: "Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku".(QS.18:76)
فَانطَلَقَا حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لَاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا {77}
77. Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".(QS.18:77)
قَالَ هَذَا فِرَاقُ بَيْنِي وَبَيْنِكَ سَأُنَبِّئُكَ بِتَأْوِيلِ مَا لَمْ تَسْتَطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا {78}
78. Khidihr berkata: "Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya.(QS.18:78)
أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا {79}
79. Adapun bahtera itu kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena dihadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera.(QS.18:79)
وَأَمَّا الْغُلَامُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤْمِنَيْنِ فَخَشِينَا أَن يُرْهِقَهُمَا طُغْيَانًا وَكُفْرًا {80}
80. Dan adapun anak itu maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mu'min, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orang tuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran.(QS.18:80)
فَأَرَدْنَا أَن يُبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكَاةً وَأَقْرَبَ رُحْمًا {81}
81. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).(QS.18:81)
وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلَامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ذَلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا {82}
82. Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Rabbmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanan itu, sebagai rahmat dari Rabbmu; dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya".(QS.18:82)
Sifat – sifat penghuni neraka
Sifat – sifat penghuni neraka
مَن يَهْدِ اللّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَن يُضْلِلْ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ {178}
178. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah , maka merekalah orang-orang yang merugi.(QS.7:178)
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ {179}
179. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.(QS.7:179)
مَن يَهْدِ اللّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَن يُضْلِلْ فَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ {178}
178. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah , maka merekalah orang-orang yang merugi.(QS.7:178)
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيراً مِّنَ الْجِنِّ وَالإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لاَّ يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لاَّ يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لاَّ يَسْمَعُونَ بِهَا أُوْلَـئِكَ كَالأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُوْلَـئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ {179}
179. Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Meraka itulah orang-orang yang lalai.(QS.7:179)
selamatan
selamatan
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Syukur ada 3 elemen yaitu ilmu, hal dan amal. Ilmu merupakan pangkalnya, lalu timbullah hal dan dari keduanya maka timbullah amal.
Orang – orang meluapkan rasa syukurnya dengan berbagai cara ada yang dengan sedekah, syukuran ataupun lainnya.
Sedekah atau biasa disebut acara keluarga yang mengundang tetangga sekitar, sedang syukuran adalah sedekah untuk peristiwa gembira. Adapun untuk acara sedih atau meminta perlindungan disebut selamatan. Selain itu masih ada lagi yaitu hajatan (sedekah meminta sesuatu ).
Banyak orang salah langkah dalam semua hal itu. Mari kita bahas satu persatu
1. Syukuran
Orang – orang mengadakan syukuran sebagai ucapan rasa syukur atas ni’mat Alloh Swt dengan bermacam – macam cara. Islam tidak melarang adanya syukuran, apabila cara penyampaiannya benar. Banyak orang mengadakan syukuran dengan mendatangkan tetangganya, lalu ada acara makan – makan, pokoknya bergembira bersamalah. Ada juga yang mendatangkan tetangga lalu diadakan selamatan . Dalam hal itu masyarakat cenderung keliru dalam menyampaikan rasa syukurnya. Lebih baik orang – orang yang mengadakan syukuran itu berbagi dengan fakir miskin, yatim piatu dan orang – orang yang benar – benar membutuhkan itulah penyampaian wujud syukur yang benar.
2. Selamatan
Syukuran, selamatan dan hajatan sebenarnya adalah satu yaitu sedekah. Selamatan juga bisa disebut syukuran, syukuran caranya juga bisa dengan selamatan ataupun hajatan juga bisa disebut selamatan. Yang membedakan hanyalah dalam hal tujuannya.
Dalam sejarah Islam Indonesia, dikatakan diwariskan tradisi islami dari nenek moyang kita terdahulu yaitu yang salah satunya adalah selamatan. Padahal tidak ! apabila kita tengok, para Wali Songo tidak ada yang menggunakan selamatan sebagai cara berdakwah mereka. Selamatan cenderung mengarah kepada warisan budaya Hindu dan Budha di Indonesia.
Dengan melihat itu sangat jelas bahwa selamatan itu adalah bid’ah. Baik selamatan mau puasa atau mau habis bulan puasanya, selamatan hari kelahiran, selamatan karena mempunyai hajat, selamatan kematian seseorang dari hari 1 sampai hari ketujuh, selamatan rumahnya dan sebagainya.
Sejak zaman Rosululloh hingga zaman para sahabat, tidak ada yang namanya selamatan. Nabi mengajarkan kita hanya bersedekah, baik bersedekah harta maupun jiwa.
Nabi Saw bersabda :
“ Jauhkanlah siksa neraka dengan bersedekah walaupun hanya dengan separuh kurma, jika tidak bisa menemukan separuh kurma dengan perkataan yang baik ” ( Lubadul Hadits ).
Tidak ada acara makan – makan, foya – foya. Tidak ada pembagian sedekah yang tidak adil. Karena semua telah diatur oleh Islam, bagaimana rukun bersedekah dan siapa yang berhak menerimanya.
Selamatan pada hari kelahiran merupakan suatu bid’ah, karena semasa hidupnya Rosululloh tidak pernah melakukannya begitu pula para sahabat yang begitu dekat dengan Rosululloh, sama halnya dengan selamatan diwaktu puasa Romadhon, karena hal itu tidak termasuk fardhunya puasa bukan pula termasuk sunah dari puasa, sama sekali Rosululloh dan para sahabat tidak pernah melakukannya.
Lalu selamatan untuk hajatan, itu cenderung salah kaprah, karena Islam mengajarkan apabila seseorang mempunyai hajat, maka sholatlah tentunya dengan sholat Hajat. Alloh berfirman Surat Al – Mu’min ayat 60
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ {60}
Dan Rabbmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".(QS.40:60)
Untuk selamatan hari kematian hari 1 sampai tujuh harinya. Sama halnya dengan selamatan untuk hajatan yaitu cenderung salah kaprah.
Diriwayatkan “ Apabila telah lewat 3 hari dari kematian, ruh meminta izin kepada Alloh untuk turun dunia melihat jasadnya yang terkubur, lalu hari ke 5 nya dan hari ketujuh setelah meninggalnya ”.
Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa apabila seseorang mukmin mati, rohnya turun ke bumi mengelilinggi rumahnya, selama 1 bulan. Melihat siapa yang mewarisi hartanya, bagaimana cara membaginya. Apabila genap 1 bulan ruhnya pulang kekuburnya kemudian keluar lagi melihat seisi rumah, siapa diantara anak, istri dan keluarganya yang mendoakannya dan menangisi kepergiannya. Setelah 1 tahun ruhnya diangkat dikumpulkan bersama ruh – ruh orang mukmin yang telah meninggal dunia.
Banyak orang yang mengatakan selamatan 1 sampai hari ketujuh hari itu sebagai salah cara mengirim doa kepada orang yang sudah mati, karena apabila anak dan saudaranya tidak bisa mendoakan dapat di wakilkan kepada ulama atau orang lain. Hal itu kurang benar.
Ibnu Abbas r.a berkata :
“ Apabila datang hari raya Idul fitri, Idul Adha, hari Arafah, hari Asyura, hari Jum’at pertama pada bulan Rajab, malam Nifsu Sya’ban, malam Lailatul Qadar dan dari dalam kubur, mereka menuju kerumah masing – masing dan berkata kepada penghuninya, “ Kasihanilah kami dimalam yang penuh barakah ini dengan shadaqah meski hanya sesuap nasi. Kami sangat membutuhkannya. Apabila kamu pelit kepada kami bacakanlah pada kami surat Fatikah dimalam yang penuh barakah ini, apakah ada orang yang mau mengasihi kami, masihkah ada yang mau mengingat orang asing ini. Wahai orang – orang yang telah menempati rumahku, wahai orang yang telah menikahi istriku, wahai orang – orang yang tinggal di istanaku, dengarkanlah aku…aku sekarang dalam kesempitan dan kenistaan tolonglah aku…….wahai orang – orang yang mewarisi hartaku, yang menelantarkan anak – anakku yang sekarang jadi yatim, apakah masih ada yang mengingat orang asing ini, tolonglah kami, catatan amalku telah ditutup dan buku amalmu masih terbuka lebar, tidak ada tambahan pahala bagi orang mati, janganlah kamu meluapkan aku mesti secuil roti yang kamu shadaqahkan dan juga doa – doamu, kami sangat membutuhkannya ”.
Apabila mereka mendapat shadaqah atau doa mereka pulang dengan suka cita, tapi kalau tidak mendapatkan apa – apa mereka pulang dengan kesedihan yang mendalam.
Sebenarnya orang mukmin tidak perlu mewakilkan doanya kepada orang yang telah meninggal karena cukuplah bagi ruh orang meninggal dengan dibacakan surat Fatikah ataupun sedikit doa yang orang mukmin bisa.
Apabila kita melaksanakan selamatan dalam 1 sampai hari ketujuh harinya malah timbullah bid’ah. Dan kewajiban kita terhadap orang mukmin yang meninggal dunia hanya ada 4 perkara, memandikan, mengkafani, menyembahyangkan dan mendoakan serta menggubunya. Untuk keluarga ditambah dengan membayar hutang atau kewajiban si mayat yang belum terlunasi ketika masih hidup di dunia.
Mungkin ini yang dapat kami sampaikan, InsyaAlloh bermanfaat.
TANPA ALLOH TULISAN INI TAK TERWUJUD.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Assalamu’alaikum Wr. Wb
Syukur ada 3 elemen yaitu ilmu, hal dan amal. Ilmu merupakan pangkalnya, lalu timbullah hal dan dari keduanya maka timbullah amal.
Orang – orang meluapkan rasa syukurnya dengan berbagai cara ada yang dengan sedekah, syukuran ataupun lainnya.
Sedekah atau biasa disebut acara keluarga yang mengundang tetangga sekitar, sedang syukuran adalah sedekah untuk peristiwa gembira. Adapun untuk acara sedih atau meminta perlindungan disebut selamatan. Selain itu masih ada lagi yaitu hajatan (sedekah meminta sesuatu ).
Banyak orang salah langkah dalam semua hal itu. Mari kita bahas satu persatu
1. Syukuran
Orang – orang mengadakan syukuran sebagai ucapan rasa syukur atas ni’mat Alloh Swt dengan bermacam – macam cara. Islam tidak melarang adanya syukuran, apabila cara penyampaiannya benar. Banyak orang mengadakan syukuran dengan mendatangkan tetangganya, lalu ada acara makan – makan, pokoknya bergembira bersamalah. Ada juga yang mendatangkan tetangga lalu diadakan selamatan . Dalam hal itu masyarakat cenderung keliru dalam menyampaikan rasa syukurnya. Lebih baik orang – orang yang mengadakan syukuran itu berbagi dengan fakir miskin, yatim piatu dan orang – orang yang benar – benar membutuhkan itulah penyampaian wujud syukur yang benar.
2. Selamatan
Syukuran, selamatan dan hajatan sebenarnya adalah satu yaitu sedekah. Selamatan juga bisa disebut syukuran, syukuran caranya juga bisa dengan selamatan ataupun hajatan juga bisa disebut selamatan. Yang membedakan hanyalah dalam hal tujuannya.
Dalam sejarah Islam Indonesia, dikatakan diwariskan tradisi islami dari nenek moyang kita terdahulu yaitu yang salah satunya adalah selamatan. Padahal tidak ! apabila kita tengok, para Wali Songo tidak ada yang menggunakan selamatan sebagai cara berdakwah mereka. Selamatan cenderung mengarah kepada warisan budaya Hindu dan Budha di Indonesia.
Dengan melihat itu sangat jelas bahwa selamatan itu adalah bid’ah. Baik selamatan mau puasa atau mau habis bulan puasanya, selamatan hari kelahiran, selamatan karena mempunyai hajat, selamatan kematian seseorang dari hari 1 sampai hari ketujuh, selamatan rumahnya dan sebagainya.
Sejak zaman Rosululloh hingga zaman para sahabat, tidak ada yang namanya selamatan. Nabi mengajarkan kita hanya bersedekah, baik bersedekah harta maupun jiwa.
Nabi Saw bersabda :
“ Jauhkanlah siksa neraka dengan bersedekah walaupun hanya dengan separuh kurma, jika tidak bisa menemukan separuh kurma dengan perkataan yang baik ” ( Lubadul Hadits ).
Tidak ada acara makan – makan, foya – foya. Tidak ada pembagian sedekah yang tidak adil. Karena semua telah diatur oleh Islam, bagaimana rukun bersedekah dan siapa yang berhak menerimanya.
Selamatan pada hari kelahiran merupakan suatu bid’ah, karena semasa hidupnya Rosululloh tidak pernah melakukannya begitu pula para sahabat yang begitu dekat dengan Rosululloh, sama halnya dengan selamatan diwaktu puasa Romadhon, karena hal itu tidak termasuk fardhunya puasa bukan pula termasuk sunah dari puasa, sama sekali Rosululloh dan para sahabat tidak pernah melakukannya.
Lalu selamatan untuk hajatan, itu cenderung salah kaprah, karena Islam mengajarkan apabila seseorang mempunyai hajat, maka sholatlah tentunya dengan sholat Hajat. Alloh berfirman Surat Al – Mu’min ayat 60
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ {60}
Dan Rabbmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku,niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".(QS.40:60)
Untuk selamatan hari kematian hari 1 sampai tujuh harinya. Sama halnya dengan selamatan untuk hajatan yaitu cenderung salah kaprah.
Diriwayatkan “ Apabila telah lewat 3 hari dari kematian, ruh meminta izin kepada Alloh untuk turun dunia melihat jasadnya yang terkubur, lalu hari ke 5 nya dan hari ketujuh setelah meninggalnya ”.
Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa apabila seseorang mukmin mati, rohnya turun ke bumi mengelilinggi rumahnya, selama 1 bulan. Melihat siapa yang mewarisi hartanya, bagaimana cara membaginya. Apabila genap 1 bulan ruhnya pulang kekuburnya kemudian keluar lagi melihat seisi rumah, siapa diantara anak, istri dan keluarganya yang mendoakannya dan menangisi kepergiannya. Setelah 1 tahun ruhnya diangkat dikumpulkan bersama ruh – ruh orang mukmin yang telah meninggal dunia.
Banyak orang yang mengatakan selamatan 1 sampai hari ketujuh hari itu sebagai salah cara mengirim doa kepada orang yang sudah mati, karena apabila anak dan saudaranya tidak bisa mendoakan dapat di wakilkan kepada ulama atau orang lain. Hal itu kurang benar.
Ibnu Abbas r.a berkata :
“ Apabila datang hari raya Idul fitri, Idul Adha, hari Arafah, hari Asyura, hari Jum’at pertama pada bulan Rajab, malam Nifsu Sya’ban, malam Lailatul Qadar dan dari dalam kubur, mereka menuju kerumah masing – masing dan berkata kepada penghuninya, “ Kasihanilah kami dimalam yang penuh barakah ini dengan shadaqah meski hanya sesuap nasi. Kami sangat membutuhkannya. Apabila kamu pelit kepada kami bacakanlah pada kami surat Fatikah dimalam yang penuh barakah ini, apakah ada orang yang mau mengasihi kami, masihkah ada yang mau mengingat orang asing ini. Wahai orang – orang yang telah menempati rumahku, wahai orang yang telah menikahi istriku, wahai orang – orang yang tinggal di istanaku, dengarkanlah aku…aku sekarang dalam kesempitan dan kenistaan tolonglah aku…….wahai orang – orang yang mewarisi hartaku, yang menelantarkan anak – anakku yang sekarang jadi yatim, apakah masih ada yang mengingat orang asing ini, tolonglah kami, catatan amalku telah ditutup dan buku amalmu masih terbuka lebar, tidak ada tambahan pahala bagi orang mati, janganlah kamu meluapkan aku mesti secuil roti yang kamu shadaqahkan dan juga doa – doamu, kami sangat membutuhkannya ”.
Apabila mereka mendapat shadaqah atau doa mereka pulang dengan suka cita, tapi kalau tidak mendapatkan apa – apa mereka pulang dengan kesedihan yang mendalam.
Sebenarnya orang mukmin tidak perlu mewakilkan doanya kepada orang yang telah meninggal karena cukuplah bagi ruh orang meninggal dengan dibacakan surat Fatikah ataupun sedikit doa yang orang mukmin bisa.
Apabila kita melaksanakan selamatan dalam 1 sampai hari ketujuh harinya malah timbullah bid’ah. Dan kewajiban kita terhadap orang mukmin yang meninggal dunia hanya ada 4 perkara, memandikan, mengkafani, menyembahyangkan dan mendoakan serta menggubunya. Untuk keluarga ditambah dengan membayar hutang atau kewajiban si mayat yang belum terlunasi ketika masih hidup di dunia.
Mungkin ini yang dapat kami sampaikan, InsyaAlloh bermanfaat.
TANPA ALLOH TULISAN INI TAK TERWUJUD.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Langganan:
Postingan (Atom)